Dari Tidak Terbiasa, Menjadi Biasa

 


Oleh : Agung Ginanjar

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Pada awal pertemuan mata kuliah Jurnalisme Dakwah saya tentunya sedikit kecewa karena pembelajaran dilakukan secara virtual atau online, karena tidak langsung bertemu dengan dosen yang mengajar dan juga teman-teman untuk saling bertukar pikiran dalam pembelajaran. Tentunya hal tersebut dilakukan atau dianjurkan untuk melakukan pembelajaran online supaya rantai penyebaran Covid-19 ini cepat berakhir, dan jika virus ini sudah musnah kita juga yang akan merasakannya juga yaitu salah satunya pembelajaran akan dilakukan seperti biasannya.

Selain merasa kecewa dengan keadaan ini, saya juga sedikit kesal karena pada pertemuan yang pertama sudah ada tugas liputan ke mesjid terdekat di daerah masing-masing. Karena saya sendiri susah untuk melakukan liputan di daerah saya, dengan situasi pandemi saya susah untuk melakukan liputan di masjid terdekan dan untuk melakukan wawancara kepada DKM mesjid juga susah karena pihak DKM juga mengurangi dalam kegiatan obrolan-obrolan dengan masyarakat karena sedang situasi pandemi ini.

Tugas pertama selesai datang lagi tugas kedua, kita ditugaskan membuat opini dan dikirimkan ke Media Indonesia, sebagai bahan latihan kita dalam mengolah diri dan mampu menyaingi orang lain dalam kepenulisan. Teman-teman saya tulisannya ada yang dimuat di koran Media Indonesia, saya merasa minder kenapa saya sama juga membuat tulisan dan dikirimkan sama ke forum Media Indonesia, tapi kenapa belum pernah dimuat di Media Indonesia.

Itulah yang menjadi tantangan bagi saya, dan saya berpikir bahwa selain harus bekerja keras dalam mengolah kata-kata yang harus ditulis kita juga dilatih akan melatih kesabaran. Jika kita terbiasa dengan menulis opini-opini yang kita kirimkan ke Media Indonesia, lama kelamaan juga pasti tulisan kita akan dimuat di Media Indonesia, dan menurut saya itu akan menjadi sebuah pencapaian yang sangat baik. 

Sikap saya seperti ini mungkin belum terbiasa dengan mata kuliah yang sedikit-sedikit tugas, sedikit-sedikit tugas. Dan saya juga memahami bahwa mata kuliah Jurnalisme Dakwah, kebanyakan dalam praktek sehingga materi yang disampaikan akan mudah dipahami dan akan mudah menerap dalam pikiran kita. Karena jika hanya teori dan teori maka materi yang disampaikan akan susah untuk dipahami dan akan kaku nantinya jika tidak ada praktek.

Memang dari awal saya khususnya kurang memahami terlebih dahulu, hanya bisa berkeluh kesah tanpa menyadari nantinya kita akan terbiasa dengan yang namanya liputan, membuat tulisan dan lainnya. Jadi seharusnya sebelum kita merasakan apalagi merasakan manfaatnya, kita jangan dahulu menyimpulkan semau kita, tapi simpulkanlah jika kita sudah memahami dan merasakannya.

Dari banyak kesan yang mungkin kebanyakan rasa kesal, itu tanpa disadari pula oleh diri saya pribadi. Karena jika kita pada awal hanya bisa berkeluh kesah, maka ke depannya juga kita tidak akan sepenuh hati dalam melaksanakannya juga. Tetapi jika kita menghadapinya dengan hati yang menerima dan dengan sepenuh hati, kita akan dipermudah dalam menerima setiap ilmu-ilmu yang diberikan.

Jika kita mampu dalam mengerjakan tugas, memahami materi-materi yang diberikan, kita tidak akan kebingungan dan tidak akan merasa sulit dalam pengerjaan setiap tugas yang diberikan. Dan kita akan menikmati setiap tugas yang diberikan tersebut.

Tetapi dalam memberikan tugas juga, jangan terus menerus karena, kita tidak tahu mengerti atau belumnya mahasiswa dalam materi yang telah ditugaskan. Sebaiknya adakan dulu mereview satu persatu tugas yang diberikan. Karena dengan begitu mahasiswa akan terlihat mana yang bisa dan mana yang belum bisa dalam materi yang ditugaskan tersebut.

Saya juga berterima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Jurnalisme Dakwah ini, karena telah membuat mahasiswanya tetap produktif walaupun dalam situasi pandemi Covid-19 ini, dengan memberikan tugas salah satunya adanya penelitian menjadi wartawan dan lainnya.

Saya pun menyimpulkan selama perkuliahan Jurnalisme Dakwah, saya banyak belajar bagaimana kita bisa tetap produktif walau dalam masa pandemi ini, kita harus bisa berperan dalam kehidupan yang sekarang sedang dialami. Karena mahasiswa harus bisa ketika dibutuhkan masyarakat tidak bisa mahasiswa ketika dibutuhkan kita malah banyak alasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selesaikan Masalah dengan Bijak

Hujan dan Kesabaran

Perlu Extra dalam Memahami sebelum Bertindak